February 18, 2020

Belum Ada Vaksin Cegah Virus Corona, Kemenkes Minta Warga agar terus berwaspada

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantoro, mengatakan bahwa tiga vaksin pneumonia beredar di Indonesia. Ketiganya adalah vaksin pneumokokus (PCV) 10 dengan merek Synflorix, PCV 10 (merek Pneumosil) dan PCV 13 (merek Prevnar). Namun, hanya ada dua vaksin yang sudah memiliki izin beredar di Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu PCV 10 Synflorix dan PCV 13 Prevnar. Sedangkan untuk PCV 10, Pneumosil belum menerima izin distribusi dari BPOM. Gaya hidup sehat

Dari tiga vaksin, kata Anung, tidak ada yang bisa mencegah pneumonia misterius yang disebabkan oleh jenis baru coronavirus yang menyebar di Cina. “Karena beberapa teman saya bertanya kepada saya. Pak, apakah sudah ada vaksin, tidak bisakah kita vaksinasi dulu? Tetapi vaksinnya tidak cocok, sehingga stereotipnya tidak cocok dengan novel coronavirus (nCoV). Saya menulis untuk tidak mencegah novel tentang coronavirus, “jelas Anung Sugihantoro di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (20/01).

Atas dasar ini, Anung meminta masyarakat untuk tetap waspada saat bepergian di Cina meskipun telah menerima vaksin PCV yang beredar di Indonesia. Dia juga meminta masyarakat memperhatikan pengumuman otoritas kesehatan China, tidak mengunjungi pasar hewan dan jika dia dipaksa pergi ke pasar hewan untuk memakai peralatan pelindung.
Anung menambahkan bahwa pemerintah juga telah mengambil serangkaian langkah untuk mencegah novel coronavirus memasuki Indonesia. Ini termasuk peningkatan pengawasan di bandara-bandara di Indonesia, terutama yang terbang dari Cina dan mendistribusikan surat edaran ke semua kantor kesehatan, serta ke rumah sakit.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga akan melakukan simulasi persiapan yang akan melibatkan beberapa sektor untuk memprediksi apakah penyakit tersebut akan masuk ke Indonesia.

Senada dengan presiden PDPI, Agus Dwi Susanto, melalui pernyataan tertulis, mengatakan tidak ada vaksin yang dapat mencegah pneumonia akibat coronavirus yang menyebar di Cina. Karena, katanya, pneumonia yang terjadi di Wunan, Cina, disebabkan oleh coronavirus jenis baru.
Dia menjelaskan bahwa pneumonia adalah infeksi akut atau peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur dan kerusakan fisik pada paru-paru. Pneumonia dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak sampai orang tua, tetapi lebih dari itu pada anak kecil dan orang tua.

Pneumonia, berdasarkan sumber infeksi, dibagi menjadi tiga, yaitu, pneumonia yang didapat komunitas (community-diperoleh pneumonia) atau pneumonia komunitas, pneumonia yang didapat di rumah sakit (PAH) dan pneumonia yang terkait ventilator (VAP). Dari ketiganya, yang sering terjadi dan bisa serius, termasuk kematian, adalah pneumonia komunitas.
Kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang. Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahun. Menurut data RISKESDAS tahun 2018, prevalensi pneumonia menurut diagnosis yang dibuat oleh para profesional kesehatan adalah sekitar dua persen. Sementara pada 2013 itu 1,8 persen.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2014, jumlah pasien dengan pneumonia di Indonesia pada tahun 2013 bervariasi dari 23% menjadi 27% dan kematian akibat pneumonia dari 1,19%. Pada 2010, pneumonia di Indonesia masuk dalam 10 besar rawat inap di rumah sakit dengan angka kematian kotor (CFR) atau angka kematian penyakit tertentu selama periode waktu dibagi dengan jumlah kasus 7,6 persen
Menurut profil kesehatan Indonesia, pneumonia menyebabkan 15% kematian balita, yaitu sekitar 922.000 anak balita pada tahun 2015. Antara 2015 dan 2018, mereka mengkonfirmasi kasus pneumonia pada lebih banyak anak Anak-anak berusia lima tahun meningkat sekitar 500.000 per tahun, mendaftarkan total 505.331 pasien dengan 425 kematian. . Dinas Kesehatan DKI di Jakarta memperkirakan 43.309 kasus pneumonia atau pneumonia pada anak-anak selama 2019.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno Hatta (KKP) Anas Ma’ruf mengatakan bahwa tidak ada laporan penumpang China yang dicurigai menderita pneumonia karena jenis baru virus korona. Menurutnya, timnya juga memiliki ruang isolasi bagi penumpang yang diduga terinfeksi penyakit ini. “Jadi, untuk ruang isolasi di setiap pintu masuk, kami punya. Di bandara Soekarno Hatta ada ruang isolasi untuk melakukan inspeksi jika kami menemukan seorang pelancong yang terperangkap di dalam ruang pemeriksaan suhu atau kami mengawasi petugas kami dengan gejala batuk, penindasan, dll. “, jelas Anas Ma’ruf. Menurut data yang dikumpulkan oleh Departemen Kesehatan, ada 31 kasus pneumonia di kota Wuhan, Cina, dari 31 Desember 2019 hingga 5 Januari 2020, tujuh di antaranya dalam kondisi kritis. Dua manula dengan penyakit penyerta meninggal kemudian pada 16 dan 17 Januari 2020. Penyebab pneumonia adalah coronavirus baru (2019-nCoV), jenis virus baru yang merupakan keluarga dengan virus yang menyebabkan SARS dan MERS. Penyebab penularan virus ini belum jelas, tetapi diduga disebabkan oleh hewan (zoonosis) dan belum terbukti ditularkan dari orang ke orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *