September 29, 2020

Penularan COVID-19 di Jawa Barat Terbagi Empat Kluster

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melaporkan bahwa transmisi COVID-19 yang telah terdeteksi di Jawa Barat sejauh ini telah dikelompokkan menjadi empat kelompok distribusi. Gaya hidup sehat

Kelompok pertama adalah Konsultasi Regional (Musda) Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia Jawa Barat (Hipmi) di wilayah Karawang.

Kelompok kedua dan ketiga adalah dua seminar di Bogor. Terakhir, seminar agama di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Untuk alasan ini, Kamil mengimbau masyarakat yang hadir dalam kegiatan atau kelompok untuk melapor ke Departemen Kesehatan Kabupaten (Dinkes) dan melakukan tes COVID-19.

“Semua ini (tujuh kasus positif COVID-19 di Karawang) adalah hasil tes independen. Jadi, kami benar-benar membuat keputusan yang tepat, yaitu melakukan tes independen yang hasilnya dapat diverifikasi oleh laboratorium kami sendiri,” kata Kamil pada konferensi . rilis terkait dengan perkembangan terbaru COVID-19 di kediaman resmi gubernur di gedung Pakuan, Bandung, pada hari Selasa, 24 Maret 2020.

Hasil dari pola distribusi disebut Kamil, sebuah pola adalah bahwa lebih dari tujuh orang terpapar positif (COVID-19) adalah orang-orang yang berpartisipasi dalam acara Musda Hipmi di Karawang pada 9 Maret 2020. Selain itu, kata Kamil, Pihaknya sudah memiliki data warga yang menghadiri dua seminar di Bogor dan seminar keagamaan di Lembang.

Menurutnya, ada sekitar 2.000 peserta dalam seminar keagamaan di Lembang. Kamil meminta peserta seminar GBI di Lembang untuk segera melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat, serta untuk segera melakukan tes cepat, pada tes cepat yang siap.

“Dua acara di Bogor, satu di Lembang dan satunya lagi di Karawang, adalah hasil dari tes independen yang kami lakukan selama delapan hari. Saya sendiri berpartisipasi dalam acara Musda Hipmi, saya melakukan tes dengan istri saya dan hasilnya negatif. Tetapi saya akan melakukan tes kedua untuk memastikan keamanan kita sendiri, “tambah Kamil.

Mempersiapkan ujian hari ini

Kamil juga mengkonfirmasi ketersediaan untuk tes besar yang akan dimulai hari ini. Tes besar-besaran di daerah dengan penyebaran COVID-19 terbesar tidak ditujukan untuk semua penduduk Jawa Barat, tetapi hanya untuk tiga kategori.

Pertama, Kategori A, yaitu orang-orang yang berisiko lebih besar untuk direkrut, seperti ODS yang baru tiba dari luar negeri, pasien di bawah pengawasan (PDP) dan keluarga mereka, tetangga dan teman, serta profesional kesehatan di rumah sakit yang mengelola COVID -19.

Kedua, Kategori B, yaitu orang-orang dengan profesi yang interaksi sosialnya cenderung berkontraksi.

Ketiga, kategori C mencakup komunitas umum dengan gejala penyakit yang diduga COVID-19. Klaim harus merujuk pada informasi pusat kesehatan, bukan diagnosis mandiri atau diagnosis mandiri.

“Kategori A akan memulai pengujian besok untuk ribuan test kit, yang dalam 15 menit akan diluncurkan dalam bentuk tes di pusat kesehatan, di rumah sakit yang telah ditentukan. Oleh karena itu, prioritas untuk besok di Jawa Barat adalah melakukan tes cepat secara massal dalam kelompok kategori A, “kata Kamil.

Kamil mengharapkan hasil tes besar-besaran, berdasarkan undangan untuk menganalisis, untuk menghasilkan peta distribusi yang terukur pada hari Jumat atau Sabtu. Untuk hasil selanjutnya, pemerintah daerah dapat membuat keputusan apakah kehadiran di sekolah dan bekerja di rumah akan berlanjut selama seminggu. Anda bisa kembali ke sekolah atau bekerja sambil menjaga jarak.

Untuk penduduk Jawa Barat yang termasuk dalam tiga kategori ini, mereka dapat mendaftar melalui aplikasi PIKOBAR (Pusat Informasi dan Koordinasi Jawa Barat COVID-19) atau mendaftar secara manual ke dinas kesehatan kabupaten dan kota. Namun, kedua gerbang pendaftaran ini akan direkam secara digital, sehingga hasil pengujian dilaporkan secara digital.

Kamil mengatakan dia memasok 20.000 test kit untuk tes besar-besaran. Sementara itu, pemerintah provinsi Jawa Barat (Pemprov) telah menganggarkan R $ 48 miliar untuk membeli berbagai perangkat medis, termasuk alat tes cepat.

“Tantangan terbesar adalah membeli alat pelindung diri (APD), masker dan peralatan uji cepat. Kami telah menghabiskan R $ 48 miliar hingga saat ini. Kami akan menyiapkan dana hingga R $ 500 miliar, dana ini sedang dibahas dengan DPRD. (Jawa Barat ) untuk mencari sumber, “kata Kamil.

Kamil menjelaskan bahwa, sesuai arahan presiden (Joko Widodo), ini akan dihapus dari anggaran non-prioritas. Anggaran dialokasikan secara khusus di bidang anggaran kesehatan dan juga menyiapkan dana untuk jaring pengaman sosial terkait dengan subsidi pangan dasar dan subsidi keuangan untuk warga negara yang terekspos pada kemungkinan rentan terhadap kemiskinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *