March 1, 2021

Ternyata Saat penentuan lokasi awalnya Masjid Istiqlal membuat Soekarno dan Hatta pernah berdebat

Setelah Yayasan Masjid Istiqlal dibentuk pada tahun 1954, bukan berarti perjalanan membangun Masjid Istiqlal berjalan lancar.

Salah satu dinamika yang muncul ketika hendak membangun Masjid Istiqlal adalah lokasi pembangunan masjid berkapasitas 200.000 jemaah di pusat Jakarta Pusat. Berita politik

Wakil Presiden Republik Indonesia Mohammad Hatta saat itu mengusulkan agar Masjid Istiqlal dibangun di sekitar Jalan MH Thamrin. Lebih tepatnya, di sinilah Hotel Indonesia Kempinsky berada saat ini.

“Alasannya ada di tengah masyarakat Islam,” tulis Soichim Salam dalam bukunya “Masjid Istiqlal, Monumen Kemerdekaan”. Berita hari ini

Bung Hatta saat itu menentang gagasan Soekarno yang menginginkan Masjid Istiqlal dibangun di benteng benteng tua karena dianggap jauh dari pemukiman penduduk.

Nyatanya, Istiqlal tampak lebih dekat dengan kawasan komersial dan perkantoran daripada ke kawasan pemukiman. Berita Terkini

“Itulah alasan keberatan Bung Hatta,” tulis Solichin.

Berbeda dengan Hatta, Soekarno berkeras membangun Istiqlal di atas bekas benteng Belanda karena alasan yang lebih politis dan artistik.

“Di bekas benteng kolonial ini, kami akan membangun Masjid Istiqlal yang artinya merdeka atau merdeka, itu pertimbangan Bung Karno,” tulis Solichin.

Soekarno menilai Benteng Benteng yang merupakan monumen penjajahan harus dimakamkan dan diganti dengan tugu kemerdekaan yaitu Masjid Istiqlal itu sendiri. Vitamin dan Suplemen

Soekarno berharap Masjid Istiqlal bisa menjadi cerita baru bagi bangsa Indonesia yang bisa mempertahankan kemerdekaan penjajah.

Masjid Istiqlal bisa menjadi monumen yang tetap bertahan selama berabad-abad dan menjadi saksi kemandirian generasi penerus bangsa Indonesia.

Sedangkan dari segi artistik, Soekarno berpendapat bahwa Masjid Istiqlal terletak strategis, dikelilingi oleh jalan protokol seperti Rua Perwira, Rua da Catedral, Rua Pintu Air dan Rua dos Veteranos.

Selain itu, terdapat dua sungai banjir di saluran Ciliwung yang mengalir di sisi barat dan timur masjid Istiqlal, sehingga masjid tidak kekurangan sumber air untuk wudhu ratusan ribu jemaah.

Perdebatan tersebut kemudian diakhiri dengan kesepakatan gagasan yang diajukan oleh Seokarno dan pembangunan Masjid Istiqlal di benteng benteng tua milik Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *